Berapa Sebenarnya Jarak Usia Anak yang Ideal?
Topik tentang “kapan punya anak kedua (atau ketiga)?” hampir selalu muncul dalam obrolan keluarga. Ada Moms yang ingin Si Kecil cepat punya teman bermain, ada juga yang ingin memberi jeda agar tubuh lebih pulih dan mental lebih siap.
Menurut WHO, jarak kehamilan ideal adalah 18–24 bulan setelah persalinan sebelumnya. Sementara BKKBN merekomendasikan jarak 2–3 tahun sebelum mulai merencanakan kehamilan lagi.
Tujuannya? Memberi waktu bagi tubuh Moms untuk pulih serta mengurangi risiko bayi lahir prematur atau memiliki berat badan rendah.
Tapi tentu saja, kondisi setiap keluarga berbeda. Untuk membantu Moms mempertimbangkan, berikut plus-minus jarak kelahiran yang terlalu dekat maupun terlalu jauh.
Jika Jarak Kelahiran Terlalu Dekat (Kurang dari 18 Bulan)
Dampak Positif
1. Kakak-Adik Cepat Akrab
Usia yang tidak terlalu jauh membuat mereka punya minat bermain yang mirip sehingga lebih mudah bonding dan bermain bersama.
2. Rutinitas Parenting Masih “On Mode”
Karena baru saja mengasuh bayi, Moms sudah terbiasa dengan ritme menyusui, begadang, dan mengganti popok. Transisinya cenderung lebih cepat.
3. Fase Tersibuk Dilewati Sekaligus
Meskipun melelahkan, masa paling intens dalam pengasuhan bisa selesai dalam rentang waktu yang berdekatan. Setelah keduanya lebih besar, Moms bisa kembali fokus pada karier atau aktivitas lain.
Potensi Tantangan
1. Tubuh Belum Pulih Optimal
Jeda kehamilan yang pendek dapat meningkatkan risiko kelelahan, anemia, dan komplikasi karena tubuh belum sepenuhnya siap.
2. Perhatian Terbagi Dua
Kakak masih membutuhkan pendampingan, sedangkan adik memerlukan perhatian penuh. Ini bisa memicu stres pada Moms dan drama kecil antar anak.
3. Mental Orang Tua Lebih Mudah Lelah
Mengasuh dua balita sekaligus jelas menantang. Penelitian menunjukkan tingkat stres dan beban emosional cenderung meningkat saat anak-anak terlalu berdekatan usianya.
➡️ Jika Jarak Kelahiran Terlalu Jauh (Lebih dari 4–5 Tahun)
Dampak Positif
1. Perhatian untuk Setiap Anak Lebih Maksimal
Moms dapat fokus mendampingi perkembangan anak pertama, lalu memulai kembali fase pengasuhan dengan energi baru ketika adik bayi lahir.
2. Kakak Lebih Mandiri dan Bisa Membantu
Saat usianya sudah cukup besar, kakak bisa membantu hal sederhana seperti mengambilkan popok atau menemani adiknya minum susu Ultra Mimi Kids.
3. Mental dan Finansial Lebih Siap
Ada waktu untuk membereskan urusan finansial dan mempersiapkan diri secara emosional sebelum kembali menjalani kehamilan dan persalinan.
Potensi Tantangan
1. Kakak-Adik Tidak Selalu “Nyambung”
Perbedaan usia membuat minat dan tahap perkembangan mereka berbeda. Kakak mungkin jadi kurang tertarik bermain dengan adiknya.
2. Perlu Adaptasi Lagi dari Nol
Rutinitas begadang, menyusui, dan mengurus bayi yang sudah lama berlalu harus diulang kembali. Peralatan bayi pun mungkin sudah tidak lengkap dan perlu membeli ulang.
3. Kakak Bisa Merasa Kehilangan Perhatian
Si Kecil yang lama menjadi anak satu-satunya bisa merasa cemburu saat adik hadir. Perubahan ini wajar, tetapi perlu ditangani dengan sabar.
Jadi, Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua keluarga. Yang terpenting adalah:
-
Kesiapan fisik dan mental Moms
-
Dukungan pasangan dan keluarga
-
Kondisi finansial
-
Kemampuan mengatur perhatian untuk setiap anak
Apa pun jarak usianya, anak tetap membutuhkan asupan gizi seimbang agar tumbuh optimal. Moms bisa mendukung kebutuhan nutrisi hariannya dengan memberikan Ultra Mimi Kids, susu UHT praktis yang mengandung vitamin dan mineral untuk bantu tumbuh kembang mereka.
https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/getting-pregnant/in-depth/family-planning/art-20044072