Setiap 1 Juni, kita merayakan Hari Susu Nusantara. Tapi, Moms pernah penasaran nggak sih dari mana tradisi minum susu bermula dan kenapa masih penting sampai hari ini? Kita intip yuk, Moms!

 

Sejarah susu sapi di Indonesia tidak bisa lepas dari masa kolonial Belanda. Di era tersebut, peternakan sapi perah mulai diperkenalkan secara lebih terstruktur, terutama di Jawa. Kota-kota seperti Lembang, Bandung dan Batu, Malang, jadi sentra produksi yang masih kita kenal sampai sekarang. Peternak lokal belajar, beradaptasi, dan kemudian mengambil alih.

 

Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia terus mendorong industri susu dalam negeri agar tidak bergantung pada impor. Koperasi-koperasi peternak tumbuh di berbagai daerah. Dari situlah, lahir nama-nama seperti KPBS Pangalengan dan KUD Argopuro yang menjadi tulang punggung pasokan susu segar nasional.

 

Kenapa 1 Juni?

Hari Susu Nusantara ditetapkan bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. Ada pesan di baliknya. Susu adalah urusan bersama, dari peternak kecil di pedesaan sampai konsumen di perkotaan. Ini soal ketahanan pangan yang dimulai dari sumber paling dasar, yakni nutrisi untuk tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

 

Data Kementerian Pertanian mencatat, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih jauh di bawah rata-rata negara tetangga, sekitar 16,6 liter per kapita per tahun. Sementara Malaysia mencapai 50,9 liter, Singapura 46,1 liter, dan Vietnam 20,1 liter per kapita per tahun.

 

Apa Kaitannya dengan Si Kecil?

Di sinilah peran orang tua jadi penentu, Moms. Anak-anak yang sejak dini dibiasakan minum susu, punya fondasi gizi yang lebih kokoh untuk belajar, bergerak, dan tumbuh. Kandungan susu seperti kalsium, protein, dan berbagai vitamin, punya peran penting dalam tumbuh kembang anak.

 

Hari Susu Nusantara menjadi pengingat, ketika Moms memberikan segelas susu, seperti Ultra Mimi Kids, untuk anak, menjadi bagian dari rantai panjang yang menghubungkan peternak lokal, industri, dan kesehatan generasi berikutnya.