Ada anak yang cepat akrab, berani menjawab, dan langsung maju saat diminta. Ada juga anak yang butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Biasanya, anak seperti ini sering buru-buru disebut pemalu. Padahal, bisa jadi bukan karena ia tidak berani, melainkan karena ia sedang belajar percaya pada dirinya sendiri.
Seperti Leon, keberanian anak sering tumbuh bukan dalam semalam, tapi dari momen momen kecil yang terus didukung dengan sabar. Kabar baiknya, rasa percaya diri itu bisa dilatih. Bukan dengan dipaksa, tapi dengan diberi ruang untuk mencoba.
-
Jangan buru buru menyebut anak pemalu. Kata-kata yang sering diulang bisa diam-diam menempel di pikiran anak. Saat anak terus disebut pemalu, ia bisa mulai percaya bahwa itulah dirinya. Akibatnya, ia jadi makin ragu untuk mencoba hal baru. Daripada memberi label, lebih baik Moms melihatnya sebagai anak yang sedang belajar berani. Kalimat sederhana seperti, “Gapapa, coba pelan-pelan ya.” bisa terasa jauh lebih menenangkan dan menguatkan.
-
Beri anak kesempatan untuk beraksi sendiri. Keberanian tumbuh saat anak diberi peluang untuk mencoba hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, biarkan ia memesan makanan sendiri di restoran, menyapa kasir, atau menjawab pertanyaan sederhana dari orang lain. Mungkin awalnya suaranya masih pelan dan wajahnya masih ragu,
tapi justru dari situ prosesnya dimulai. Saat anak berhasil melakukan satu hal kecil sendiri, ia belajar bahwa ternyata dirinya mampu. -
Membiarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Tentu bukan berarti Moms melepas begitu saja, tapi memberi ruang agar anak belajar mencari jalan keluar. Saat mainannya rebutan, saat bingung memilih, atau saat ada masalah kecil dengan temannya, cobalah tahan diri untuk tidak langsung turun tangan. Dampingi, dengarkan, lalu bantu arahkan seperlunya. Dengan begitu, anak belajar berpikir, mengambil keputusan, dan merasa lebih yakin pada kemampuannya sendiri.
-
Jangan mengkritik anak di depan umum. Saat anak melakukan kesalahan, hindari menegur dengan nada yang membuatnya malu, apalagi di depan banyak orang. Bagi anak, momen seperti itu bisa terasa sangat besar dan membekas. Alih-alih belajar, ia justru bisa jadi takut mencoba lagi. Akan lebih baik jika Moms menenangkan dulu situasinya, lalu mengajaknya bicara pelan saat suasana sudah lebih nyaman.
-
Berikan pujian. Bukan hanya saat hasilnya sempurna, tapi juga saat anak berani mencoba. Kalimat seperti,
“Wah, tadi kamu berani pesan sendiri, ya.” atau “Mama bangga kamu mau coba.” bisa membuat anak merasa usahanya dihargai. Dari sanalah keberanian pelan-pelan tumbuh lebih besar.
Di tengah proses belajarnya, dukungan dari asupan yang tepat juga bisa membantu, salah satunya bersama Ultra Mimi Kids. Susu UHT yang komposisi utamanya susu sapi segar ini praktis jadi teman diskusi seru, sekaligus mendukung energi Si Kecil untuk terus aktif dan belajar segala hal. Jadi, saat anak sedang sibuk bertanya, bercerita, atau mencoba hal baru, Moms bisa menemani momen itu dengan obrolan hangat dan dukungan yang simpel.
Pada akhirnya, anak yang berani bukan anak yang tidak pernah takut. Anak yang berani adalah anak yang tetap mau mencoba, selangkah demi selangkah, sambil tahu bahwa Moms selalu ada di dekatnya untuk memberikan dukungan.