Angkanya tidak mengagetkan tapi, tetap terasa berat. Rata-rata anak gen alpha, mereka yang lahir pada 2010-2024, menghabiskan sekitar 3,5 jam sehari di depan layar untuk menyaksikan konten hiburan. Sementara, dikutip dari All About Aision, sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association Pediatrics, untuk usia dua hingga lima tahun, waktu menonton layar disarankan tidak lebih dari satu jam per hari. Sedangkan untuk anak berumur kurang dari dua tahun, tidak disarankan memiliki screen time kecuali video call dengan keluarga.
Gen Alpha Tumbuh Beda
Anak-anak gen alpha lahir ke dunia yang sudah penuh layar. Tablet ada sebelum mereka bisa berbicara. YouTube hadir sebelum mereka tahu cara membuka buku. Bagi mereka, gagdet bukan teknologi baru. Gadget adalah bagian dari lingkungan yang sudah ada sejak awal.
Ini yang lantas membuat pendekatannya harus berbeda dengan generasi sebelumnya. Melarang total menggunakan gadget terasa tidak realistis dan nyaris sulit dilakukan. Yang bisa diterapkan adalah membentuk kebiasaan penggunaan yang tidak merusak.
Apa yang Terjadi Saat Anak Terlalu Lama di Depan Layar?
Beberapa hal yang dicatat oleh peneliti dan dokter anak ialah pertama, pola tidur yang terganggu. Cahaya biru dari layar menekan produksi melatonin, hormon yang memberi sinyal ke otak bahwa sudah waktunya tidur. Anak yang main gadget menjelang tidur cenderung butuh waktu lebih lama untuk terlelap dan tidurnya tak se-pulas anak yang tidak terpapar layar sebelum tidur.
Kemudian, durasi perhatian atau fokus yang memendek. Konten di platform seperti YouTube Kids atau TikTok dirancang untuk pergantian cepat, setiap beberapa detik ada sesuatu yang baru. Otak anak yang terbiasa dengan ritme ini bisa kesulitan bertahan pada aktivitas yang lebih lambat, seperti membaca atau mendengarkan penjelasan guru di kelas.
Ketiga, interaksi sosial berkurang. Setiap jam yang dihabiskan di depan layar adalah satu jam yang tidak dipakai untuk bermain bebas, ngobrol dengan teman, atau bereksperimen di dunia nyata.
Kendati demikian, riset tentang screen time anak tidak sepenuhnya berakhir dengan kesimpulan seram, loh, moms. Ada sejumlah catatan penting:
-
Tidak semua waktu layar itu sama. Anak yang menonton video edukatif bersama orang tua dan berdiskusi tentang isinya, mendapat manfaat berbeda dibanding anak yang scroll konten sendirian tanpa arah.
-
Pola keseharian si kecil pun ikut menentukan. Anak yang aktif bergerak, punya waktu bermain yang cukup, tidur teratur, dan makan bergizi cenderung lebih tahan terhadap dampak screen time dibanding anak yang sejak awal minim aktivitas.
Beberapa Hal yang Bisa Moms Coba:
-
Tentukan zona tanpa layar. Meja makan dan kamar tidur adalah dua tempat paling praktis untuk memulai. Tidak perlu aturan panjang, cukup konsisten di dua lokasi ini.
-
Ikut menonton bersama. Moms tidak harus duduk tiga jam menemani anak menonton. Cukup 10-15 menit ikut menonton dan berkomentar tentang apa yang terlihat di layar cukup untuk mengubah konsumsi pasif menjadi lebih aktif.
-
Beri alternatif yang sama menariknya. Anak tidak akan dengan sendirinya memilih membaca buku daripada YouTube kalau buku yang tersedia membosankan. Cari tahu apa yang membuat anak tertarik, dan cari versi fisik dari ketertarikan itu.
-
Jangan jadikan gadget sebagai hadiah atau hukuman. Sebaliknya, melarang sebagai hukuman membuat anak menganggap gadget sebagai sesuatu yang berharga, sehingga begitu ada kesempatan, ia akan menghabiskan lebih banyak waktu di sana.
-
Anak meniru. Kalau moms dan dads juga pegang HP sepanjang hari, sulit bagi anak untuk memahami mengapa mereka harus berhenti setelah satu jam. Aturan yang paling efektif adalah yang berlaku untuk semua orang di rumah, bukan hanya untuk anak.